Desa Cepokorejo yang Ku Rindu
Seolah seperti kekasih yang lama
tak bersua, mendengar namamu saja merinding roma ini. Kangen stadium IX. 😀 . Seminggu dalam
setahun tentu saja resep ini jauh dari kata ampuh untuk mengobati rinduku. You
know it exactly laah….
Map desa cepokorejo on Google
SELAYANG PANDANG
Secara Yuridis ,
desa cepokorejo adalah bagian dari Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa
Timur. Dibawah wilayah hukum bumi Ronggolawe ataupun bumi Wali istilah untuk
kabupaten Tuban.
Sedangkan kecamatan Palang merupakan satu dari beberapa
kecamatan yang ada di Tuban yang berlokasi persis sebelah timur Kota Tuban.
Istilah kerennya, Tunggal Gedeg karo cah Tuban. Heee..
Kecamatan Palang terletak di pesisir utara pulau Jawa. Walaupun
demikian, tidak semua masyarakatnya tinggal di daerah pesisir. Oleh karena wilayah
ini sangat unik, dari utara ke Selatan terbagi dalam pesisir pantai, tambak,
sawah, tegalan, bukit kapur, alas / jaten / hutan. Komplit kan?
Tak heran warganya pun memiliki beragam mata pencaharian. Mulai
dari para pencari ikan alias nelayan, petani, peternak, pengusaha, karyawan, penambang
batu kapur bahkan sebagai TKI di beberapa Negara Asia. Yang paling terkenal
apalagi kalau bukan di Malaysia.
Beragamnya kondisi geografis di kecamatan Palang ini sedikit
banyak bisa direpresentasikan oleh kondisi geografis desa Cepokorejo.
Gapuro Desa Cepokorejo
Kalau dilihat lagi dalam gambar peta di atas, wilayah
kekuasaan desa cepokorejo terbentang sekitar sepanjang 9kM dari ujung utara ke ujung
selatan. Wilayah utara berbatasan dengan desa Lohgung-Paciran dekat dengan
pantai utara jawa sampai di Selatan Tegalan dan hutan Widang .
Bukankah ini wilayah yang strategis? Tentu saja iya.
Dengan kondisi geografis desa ini, banyak sekali sumber daya
alam yang bisa dimanfaatkan. Mulai dari perikanan, pertanian, peternakan, suplai
air bersih ke daerah pesisir (Ngetong) hingga pertambangan. Hah? Pertambangan?
Yang bener lu Ndro?
Yap betul, pertambangan. Pertambangan tidak harus melulu
nambang emas, batubara, minyakbumi dll.
Tapi batu kapur adalah juga tambang. Ini tambang berharga bagi kawasan ini. Ini
yang dinamakan ‘Emas Puteh’. Hee…
Walaupun sebenarnya wilayah desa Cepokorejo tidak ada
tambang kapur, akan tetapi keberadaan bukit kapur di sekitar desa adalah
anugerah dari sang pencipta. Asalkan bersedia bekerja disini, insyaAllah ada
pekerjaan yang tersedia. Tinggal ukur, potong, angkut, jual. Cair sudah. Wkwkwk…….
DUSUN – DUSUN DI DESA CEPOKOREJO
Dengan luas sekitar 17 km2 dan
jumlah penduduk dikisaran 4000 an jiwa (mohon koreksinya kalau salah) adalah
suatu keniscayaan untuk pembagian menjadi beberapa dusun. Ini bertujuan untuk
mengefektifkan pelayanan publik.
Sampai saat tahun 2018 ini, dusun
yang ada di desa ini berjumlah 5 dusun, berikut ini :
1. Dusun
Karang Lor
2. Dusun
Caper
3. Dusun
Waru
4. Dusun
Randu Geneng
5. Dusun
Sembungharjo
Mari kita kasih sedikit review dusun-dusun tersebut.
1. DUSUN KARANG LOR
Dusun Karang Lor nampak dari atas
Dusun KarangLor boleh dikatakan menjadi ibu kotanya Desa Cepokorejo. Iya, karena di Jantung dusun inilah berdiri kokoh istana petinggi alias Pak lurah beserta seluruh pamong nya.
Beralih ke sejarah dusun. Mari kita coba Jlentrehkan mengapa, kenapa, siapa, dan bagaimana bisa dusun ini dinamakan karang Lor. Walaupun penulis sendiri berasal dari dusun ini, tidak banyak fakta sejarah yang bisa dikumpulkan. Mengingat tidak adanya peninggalan tertulis dari nenek moyang. Halah…
Kalau kita tengok laman Wikipedia modern, secara harfiah ‘Karang’ berarti Batu penghalang besar yang kemudian dipakai dalam toponim bahasa Jawa dan Sunda. Lor adalah utara (dah tau semua ya, hee… :)
Kembali ke Karang, Lhoh koq mana batu besarnya di dusun ini? Mungkin saja ada di zaman dahulu atau mungkin tidak juga. Kalau pribadi penulis mengartikan Batu penghalang besar ini berarti batas atau pagar ataupun yang lainnya yang bisa melindungi. Melindungi dari gangguan apapun, bisa ancaman musuh, angin kencang, angin laut yang panas dan kering dan lain-lain.
Kalau kembali pada zaman kecil saya dulu (era 90-an, zaman keemasa anak2 katanya, hihii), disepanjang perimeter utara dusun ini tertanam kokoh nan rimbun hutan bambu. Bahasa kerennya ‘Mbarongan’. Mbarongan inilah pagar dusun yang melindungi dari gangguan yang tersebut diatas.
Disamping sebagai pagar pelindung, Mbarongan adalah jantung hati pada zaman kecil saya dulu. Hampir seluruh aktivitas terkonsentrasi disana. Mulai bal-bal an, delik an, penek an, ngetepel manuk, ngetepel cuwut, bedil bedil an, gelut, luru kayu carang, petan rambut bagi ibu2, dan seterusnya. Bahkan, sebagai WC umum juga. Hahaa….
Intinya, Karang Lor memiliki pagar pelindung di sisi utara dusun. Kenapa di Utara saja, bukankah di sebelah selatan dusun juga ada mbarongan yang sama? Menurut hemat saya, mungkin yang ditanam lebih dulu oleh nenek moyang kita adalah bagian utara. Jadi kalau mau dinamakan karang Lor Kidul kan tidak pantas, kelihatan tidak konsisten.
Dusun ini bukannya tidak memiliki ikon, ada 2 situs yang bisa dijadikan ikon dusun. Apa saja itu? Ya betul, sumur Mbah Mewen dan Mbah Makam Bakal.
Sumur Mewen terletak di sebelah barat dusun. Sumur ini merupakan sumber air bersih sejak dari beberapa generasi terdahulu sampai saat ini. Disamping konsumsi warga dusun setempat, air bersih dari dusun ini juga disuplai ke desa-desa pesisir pantai yang airnya asin. Sumur ini menjadi berkah tersendiri bagi warga dusun. Keberadaannya bisa menjadi mata pencaharian tetap warga yang dikenal dengan istilah ‘NgeTong’.
Ketika musim kemarau bunga dan buah sewel kotil ini berterbangan ke berbagai penjuru. Biji buahnya Terbang layaknya baling baling helicopter. Kami berebut untuk menangkapnya.
Saat ini kawasan ini sudah dibangun beberapa bangunan. Ada gedung sekolah, gedung Polindes, puskesmas.
Beralih ke sejarah dusun. Mari kita coba Jlentrehkan mengapa, kenapa, siapa, dan bagaimana bisa dusun ini dinamakan karang Lor. Walaupun penulis sendiri berasal dari dusun ini, tidak banyak fakta sejarah yang bisa dikumpulkan. Mengingat tidak adanya peninggalan tertulis dari nenek moyang. Halah…
Kalau kita tengok laman Wikipedia modern, secara harfiah ‘Karang’ berarti Batu penghalang besar yang kemudian dipakai dalam toponim bahasa Jawa dan Sunda. Lor adalah utara (dah tau semua ya, hee… :)
Kembali ke Karang, Lhoh koq mana batu besarnya di dusun ini? Mungkin saja ada di zaman dahulu atau mungkin tidak juga. Kalau pribadi penulis mengartikan Batu penghalang besar ini berarti batas atau pagar ataupun yang lainnya yang bisa melindungi. Melindungi dari gangguan apapun, bisa ancaman musuh, angin kencang, angin laut yang panas dan kering dan lain-lain.
Kalau kembali pada zaman kecil saya dulu (era 90-an, zaman keemasa anak2 katanya, hihii), disepanjang perimeter utara dusun ini tertanam kokoh nan rimbun hutan bambu. Bahasa kerennya ‘Mbarongan’. Mbarongan inilah pagar dusun yang melindungi dari gangguan yang tersebut diatas.
Disamping sebagai pagar pelindung, Mbarongan adalah jantung hati pada zaman kecil saya dulu. Hampir seluruh aktivitas terkonsentrasi disana. Mulai bal-bal an, delik an, penek an, ngetepel manuk, ngetepel cuwut, bedil bedil an, gelut, luru kayu carang, petan rambut bagi ibu2, dan seterusnya. Bahkan, sebagai WC umum juga. Hahaa….
Intinya, Karang Lor memiliki pagar pelindung di sisi utara dusun. Kenapa di Utara saja, bukankah di sebelah selatan dusun juga ada mbarongan yang sama? Menurut hemat saya, mungkin yang ditanam lebih dulu oleh nenek moyang kita adalah bagian utara. Jadi kalau mau dinamakan karang Lor Kidul kan tidak pantas, kelihatan tidak konsisten.
Mbarongan, nampak dari jalan desa
Saat ini, Mbarongan hampir hilang. Itu karena owner tanah nya tidak mau lagi tanahnya dipakai untuk ini. Apa efeknya sekarang? Saya kira sekarang dusun ini lebih panas dan lebih kering. Ini bisa dibuktikan dengan berdiam diri dirumah tanpa kipas angin. Coba kuat berapa jam?
Dusun ini bukannya tidak memiliki ikon, ada 2 situs yang bisa dijadikan ikon dusun. Apa saja itu? Ya betul, sumur Mbah Mewen dan Mbah Makam Bakal.
Sumur Mewen terletak di sebelah barat dusun. Sumur ini merupakan sumber air bersih sejak dari beberapa generasi terdahulu sampai saat ini. Disamping konsumsi warga dusun setempat, air bersih dari dusun ini juga disuplai ke desa-desa pesisir pantai yang airnya asin. Sumur ini menjadi berkah tersendiri bagi warga dusun. Keberadaannya bisa menjadi mata pencaharian tetap warga yang dikenal dengan istilah ‘NgeTong’.
Sumur Mbah Mewen
NgeTong adalah pekerjaan tradisional jualan air bersih ke desa pesisir pantai dengan sapi sebagai alat transportasinya. Beberapa dasawarsa yang lalu, banyak sekali warga dusun memilih pekerjaan ini (salah satunya bapak saya). Untuk saat ini sudah tidak lagi sapi mengaspal, sudah tergantikan dengan motor.
Mbah Makam Bakal, Terletak di pusat dusun Karang Lor.
Situs ini berupa kawasan yang di dalamnya ada makam dari Mbah Bakal. Pada waktu kecil saya, kawasan ini sangat rimbun dengan mbarongannya. Dan yang jadi ikon nya adalah pohon sewel kotil yang menjulang tinggi.
Mbah Makam Bakal, Terletak di pusat dusun Karang Lor.
Situs ini berupa kawasan yang di dalamnya ada makam dari Mbah Bakal. Pada waktu kecil saya, kawasan ini sangat rimbun dengan mbarongannya. Dan yang jadi ikon nya adalah pohon sewel kotil yang menjulang tinggi.
Ketika musim kemarau bunga dan buah sewel kotil ini berterbangan ke berbagai penjuru. Biji buahnya Terbang layaknya baling baling helicopter. Kami berebut untuk menangkapnya.
Saat ini kawasan ini sudah dibangun beberapa bangunan. Ada gedung sekolah, gedung Polindes, puskesmas.
Komplek Mbah Makam Bakal
bersambung.....
Ngopi sik,,,,,





Comments
Post a Comment